Uncategorized

“Wah, ayah bundanya kuliah di luar negeri. Anaknya udah diajarin bahasa Inggris sejak bayi dong ya!”

Sering sekali aku dapat pernyataan atau pertanyaan yang maknanya kurang lebih sama dengan judul tulisan ini. Dan setiap kali aku menjawab “nggak, anakku nggak diajarin bahasa Inggris” atau “nggak, aku nggak ada niat mau nyekolahin anakku di TK internasional”, aku selalu dapat reaksi yang mirip.

Heran, kaget, bingung. Lalu ditanya, “loh, kenapa? takut speech delay?”

Dari situ aku menyimpulkan ternyata memang keyakinan “belajar bahasa Inggris semakin cepat semakin baik” itu benar-benar mendarah daging di masyarakat kita, apalagi di circle millenial parents yang umumnya kelas menengah ke atas.

Sebelumnya, let’s make one thing clear ya. Aku nggak menganggap belajar bahasa Inggris sejak kecil itu salah. Juga belum ada riset yang membuktikan bilingualisme sebagai penyebab utama speech delay bagi anak. Dan benar bahwa anak bilingual terbukti punya kemampuan kognitif yang lebih baik daripada anak monolingual.

Aku bukan nggak mau anak-anakku belajar bahasa Inggris, kok. Hanya saja aku dan suami sudah putuskan lebih baik mereka diajarin bahasa Inggris setelah fasih berbahasa Indonesia. Maksudnya sudah bisa membaca dan menulis dalam bahasa Indonesia ya.

Ini gambaran latar belakang bahasa keluarga kami sekarang:

  • Aku dan suami keduanya hampir selalu ngomong pakai bahasa Indonesia dengan satu sama lain. Bahkan ketika kami tinggal di US saat suami menempuh studi, kami hanya berbahasa Inggris saat berkomunikasi dengan orang yang nggak bisa bahasa Indonesia.
  • Keluarga besarku dan suami juga hanya bisa berbahasa Indonesia atau bahasa daerah. Sedikit sekali yang bisa bahasa Inggris.
  • Meski kami pernah dan akan tinggal sementara di luar negeri untuk urusan studi maupun pekerjaan, tapi aku dan suami punya komitmen untuk kembali dan menetap di Indonesia. Maka anak-anak kami pun akan lebih lama tumbuh dan berkembang di Indonesia, di lingkungan yang lebih banyak pengguna bahasa Indonesianya.

Banyak aku temui anak balita dan usia SD yang sehari-hari sudah lancar pakai bahasa Inggris, bahkan lebih lancar bahasa Inggris daripada Indonesia. Keren ya? Iya, tapi kebayang nggak kalau itu anak kita, dan pas ngumpul-ngumpul dengan keluarga besar, nenek dan kakeknya disapa pakai ‘hey, there‘ dan ‘you‘? Karena dalam bahasa Inggris, semua orang kedua tanpa pandang usia dipanggil ‘kamu’ kan? Syukurnya kakek nenek nggak bisa bahasa Inggris ya, jadi nggak bisa banyak ngobrol dengan cucu.

Yes, by the way, the last statement above is me being sarcastic.

Plot twist: itu beneran terjadi di depan mataku, walau bukan di keluarga.

Ada beberapa hal yang perlu dipahami jika memutuskan untuk menempatkan anak di lingkungan belajar yang mengutamakan bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia sejak dini.

Yang pertama, anak akan lebih fasih menggunakan bahasa Inggris daripada Indonesia. Menurutku, goal idealnya bukan agar bahasa Inggris jadi bahasa dominan, tapi agar anak mampu berkomunikasi secara efektif menggunakan kedua bahasa, Inggris dan Indonesia.

Kedua, balita itu masa terbentuknya kepribadian dan identitas anak. Bahasa itu bagian integral dari identitas, dan berpengaruh signifikan pada perilaku dan pola pikir. Sadar nggak, saat ngomong bahasa Inggris atau bahasa selain Indonesia, ada perubahan di dirimu? Dari sekedar pitch suara, gaya bahasa, sampai ada yang jadi pribadi berbeda. Maka aku memilih untuk menguatkan akar ke-Indonesiaan dalam anak-anakku hingga mereka secure dengan identitas Indonesia mereka, baru kemudian mau belajar bahasa apapun ya oke. I don’t know about you, but for me this is important.

Ketiga, kita memberi value lebih pada bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. This is how tons of languages died and buried their cultures along with them. Sudah terjadi dengan ratusan bahasa di dunia, dan sedang berlangsung pada bahasa-bahasa daerah kita. Katanya pluralisme membuat kita kaya, lantas kenapa kita justru mengarah ke hegemoni bahasa?

Lah, katanya anak nggak diajarin bahasa Inggris, tapi kenapa dibeliin buku impor?

Benar, aku senang beli buku impor buat anak-anak. Alasan utamanya karena kualitas, walau tetap aku sangat selektif dengan konten bukunya karena sekarang ini banyak sekali buku anak impor yang disisipin konten yang kurang sesuai dengan agama Islam dan bahkan norma yang berterima di Indonesia.

Nah, di sini kita perlu bedain makna ‘language learning‘ dengan ‘language acquisition‘. Aku membacakan cerita dalam bahasa Inggris ke anakku tanpa meminta dia menghapal atau memahami makna setiap katanya. Tujuannya di sini lebih ke memberikan exposure, atau membuat bahasa Inggris familiar di telinganya. Dari sini anak lama-lama akan bisa berbahasa Inggris, walau mungkin belum memahami konsep tata bahasanya. Ini yang dimaksud dengan language acquisition. Dan tau nggak sih, skill yang didapat dari proses acquisition justru nggak akan hilang, karena disetor di long term memory anak.

Lantas apa bedanya dengan belajar bahasa Inggris?

Ya beda dong. Karena dalam diri anak nggak ada ‘kesadaran’ bahwa dia sedang belajar. Selain itu, anak juga nggak diberi kesan bahwa bahasa Inggris itu penting, harus dipahami sejak dini, dsb. Malah anak balitaku yang suka ngomong pakai bahasa Inggris (dengan grammar belepotan hahaha), tapi lebih sering aku respon pake bahasa Indonesia.

Terus gimana dengan anak diplomat atau yang lama tinggal di luar negeri?

Kalau itu jelas beda circumstances-nya kan. Sebelumnya aku udah jelasin situasi dan kondisi kami dan keluarga besar. Jelas berbeda dengan anak-anak yang orang tuanya bekerja di luar negeri dalam waktu yang lama. Lagian kalau lama tinggal di luar negeri (apalagi negara yang berbahasa Inggris), maka anak nggak perlu diajarin juga bakal fasih banget bahasa Inggrisnya.

Kalau anak yang orang tua-nya beda kewargnanegaraan gimana?

Nah, ini yang paling ideal buat anak jadi true bilingual. Kenapa? Karena anak yang orang tuanya masing-masing punya native language yang berbeda punya ‘target culture‘ yang konkrit dari masing-masing orang tuanya. Jadi baiknya masing-masing orang tua konsisten ngomong ke anak pake bahasanya masing-masing, sehingga anaknya fasih kedua bahasa dan nggak menganggap bahasa Ibu ‘lebih ABC’ dari bahasa Ayah.

Masalahnya di kita orang tua milenial yang stay di Indonesia ini, anak dimasukin ke sekolah internasional sejak umur 3-4 tahun, diajak ngomong pake bahasa Inggris di rumah, sementara di lingkungan masyarakat dan mungkin di lingkungan kerja nanti skill berbahasa Indonesia masih sangat dibutuhkan (karena aku masih belum melihat kemungkinan Indonesia bakal jadikan bahasa Inggris bahasa resmi dalam 10-15 tahun ke depan). Emang iya anaknya mau dikirim ke luar negeri semua? Terus yang bangun Indonesia di masa depan siapa?

Tulisan ini kubuat karena kupikir kita butuh perspektif berbeda dalam memandang pendidikan bahasa Inggris sejak dini yang banyak dianut warga bangsa ini (di luar negeri juga sama sih). Yes, English is important, but as a tool to communicate with people who don’t speak the same language, and more importantly to gain information that is not widely available in our own language.

Tujuan belajar bahasa Inggris buat kita orang Indonesia itu ya sejatinya sebagai alat untuk mencapai tujuan, apapun itu tujuan kita. Maka kita nggak perlu memberikan value yang berlebihan ke bahasa Inggris sampai tanpa sadar membuat anak cucu kita memandang bahasa Inggris lebih penting dari bahasa kita sendiri.

Lantas kapan baiknya anak mulai belajar bahasa Inggris? Kalau ketuaan ntar dia bakal struggle untuk dapetin skor IELTS 7.0 kayak orang tuanya dong!

Tunggu sampai anak fasih menulis dan membaca dalam bahasa Indonesia dulu. Dan nggak perlu khawatir. Aku juga baru belajar bahasa Inggris di usia 10 tahun, dengan modal minim di zaman sebelum mengenal internet. Alhamdulillah, kuliah di luar negeri nggak minder kok ngomong sama bule.

Anak-anak kita insya Allah pasti bakalan jadi English users yang oke. Apalagi di zaman serba digital ini dengan orang tua yang alhamdulillah bisa provide resource apapun yang dibutuhkan anaknya, kan?

Tapi kembali lagi, ini pure opini pribadi. Feel free to disagree 🙂

Scholarship · study overseas

Tantangan Studi di Kampus Luar Negeri

Studi di luar negeri itu, walau banyak asiknya, tapi juga banyak tantangannya. Posting-an Instagram teman atau kenalan kamu yang lagi studi di luar negeri nggak bisa dijadikan tolak ukur gambaran kehidupan mahasiswa di sana ya, karena orang kan biasanya suka share yang senang-senangnya aja. Padahal, senang-senang dan jalan-jalan itu cuma sepuluh persen dari apa yang dialami, sedang sembilan puluh persennya lagi penuh perjuangan. Dan kamu yang lagi persiapan untuk studi di luar negeri wajib aware tentang ini.

Apa aja tantangan yang bakal kamu hadapi saat studi di luar negeri? Berikut di antaranya.

  1. Academic burden
    Kuliah di luar negeri tentunya beda dengan kuliah di kampus lokal, nggak cuma di metode penyampaian, tapi juga beban perkuliahan. Sebagian besar waktu kamu bakal didedikasikan untuk belajar di perpustakaan. Nggak jarang waktu liburan pun dihabiskan untuk ngerjain tugas. Temanmu yang posting foto jalan-jalan di Instagram, bisa jadi juga sambil bawa tugas esainya yang masih belum selesai.
  2. Language barrier
    Perbedaan bahasa menjadi tantangan tersendiri saat kamu kuliah di luar negeri. Meski sebelum berangkat udah belajar bahasanya dan dapat skor tes profisiensi yang tinggi, belum tentu kamu nggak akan kesulitan ketika harus berkomunikasi dengan orang di sana. Apalagi kalau selama ini yang dipelajari adalah bahasa yang standar dan kamu nggak familiar dengan versi informal yang dipakai sehari-hari. Jangan heran kalau banyak istilah dan gaya bahasa yang kamu nggak paham di awal-awal.
  3. Culture shock
    Perbedaan bahasa, budaya, pola hidup, hingga makanan bisa membuat kamu ngalamin yang namanya culture shock. Culture shock ini adalah suatu kondisi dimana pengalaman baru tinggal di tempat asing membuat kamu merasa kaget atau shock, yang bisa bikin kamu nggak nyaman tinggal di sana. Culture shock ini intensitasnya bisa ringan sampai parah. Jadi, penting banget buat kamu mengantisipasi culture shock sebelum berangkat studi ke luar negeri.
  4. Homesickness
    Ketika kamu mulai merasakan culture shock, otomatis akan muncul rasa rindu kampung halaman dan orang-orang yang kamu sayang. Kondisi ini disebut homesickness, atau kerinduan yang berat yang bikin kamu pingin pulang. Tapi homesickness ini nggak melulu muncul karena culture shock ya. Bahkan setelah kamu pulih dari culture shock, sesekali kamu akan merasa homesick karena jauh dari keluarga dan teman-teman. Dan di kasus yang parah, kondisi ini bisa mempengaruhi fisik juga dan bikin kamu sakit, loh. Makanya namanya home”sickness”.
  5. Academic writing
    Kuliah di kampus luar negeri artinya kamu bakalan banyak banget nulis. Academic writing jadi tantangan tersendiri buat kamu yang di sekolah atau di jaman S-1 dulu jarang nulis. Karena dalam academic writing ada kaidah yang harus kamu ikuti, maka nggak cukup sekedar bisa bahasanya. Bayangin aja, bisa jadi tugas akhir semester kamu harus nulis esai 4.000 kata untuk setiap mata kuliah yang diambil, dan itu nggak termasuk daftar pustaka ya.
  6. Critical thinking
    Mahasiswa dari negara kita, banyak banget yang kesulitan dengan critical thinking saat kuliah di luar negeri. Padahal, kemampuan mendemonstrasikan pola pikir yang kritis justru jadi komponen utama penilaian dalam perkuliahan di luar negeri, khususnya kampus-kampus di English speaking country. Budaya dan tradisi kita memang dinilai kurang mendukung untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis anak muda. Meski beberapa tahun belakangan mulai muncul gerakan mendidik anak berpikir kritis, tapi nyatanya level kita masih relatif jauh di bawah negara-negara tetangga.
  7. Academic Burnout
    Satu tantangan lagi yang mungkin bakal kamu hadapi ketika studi di luar negeri yaitu academic burnout, atau kelelahan akut akibat terlalu sering berkutat dengan materi dan tugas-tugas kuliah. Kamu terancam mengalami kondisi ini khususnya di penghujung semester atau akhir masa perkuliahan. Kalau kamu tipe yang suka menunda-nunda pekerjaan, maka resiko kamu mengalami academic burnout akan lebih besar ya. Karena di akhir masa studi, kamu mungkin harus mulai nulis thesis atau disertasi penelitian di samping menyelesaikan tugas mata kuliah juga. Maka dari itu, kamu harus pintar-pintar manage waktu.

Nah, itu dia beberapa tantangan yang mungkin bakal kamu alami saat studi di luar negeri. Meskipun berat, tapi semua tantangan ini tetap bisa kamu hadapi kok. Kuncinya adalah persiapan yang matang dan manajemen waktu yang baik. Selain itu, kamu juga perlu menjaga mindset positif dan punya support system yang solid, baik dengan teman kuliah di luar negeri maupun keluarga dan orang-orang tersayang di kampung halaman. Untuk mendapatkan sesuatu yang berharga, pasti ada tantangan yang berat dan butuh pengorbanan yang besar juga. Tapi selama yakin dan mau berusaha, maka kamu akan mendapat hasil yang setimpal. Semangat ya!

Scholarship

Tips Raih Skor IELTS di atas 7.0 tanpa Persiapan

image source: britishcouncil.ca

Kamu butuh skor IELTS 7, tapi nggak punya waktu untuk persiapan tesnya? Kebetulan aku juga pas tes IELTS di tahun 2015 dulu nggak sempat melakukan persiapan matang karena waktu yang mepet. Tapi, meski minim persiapan, aku tetap dapat skor yang kubutuhkan. Overall skor IELTS-ku waktu itu 7.5, dan nggak ada skor per subtest yang di bawah 7.0.

Gimana caranya bisa dapetin skor segitu tanpa persiapan? Yuk simak tipsnya. Semua berdasarkan pengalamanku pribadi. Baca sampai akhir ya.

1.  Get an early start
Aku mulai belajar bahasa Inggris sejak usia 10 tahun, sejak level primary sampai advanced (bahkan punya sertifikat tes ujian negara setiap levelnya). Terus aku kuliah jurusan pendidikan bahasa Inggris juga. Kalau ditotal, waktu tes IELTS aku udah belajar bahasa Inggris selama 15 tahun, dan masih on-going. Kamu sendiri belajar bahasa Inggris udah berapa lama?

2.  Kuasai semua grammar rules
Yah, nggak semua juga sih sebenarnya. Sampai sekarang aku tuh masih suka bingung dengan penggunaan preposition karena nggak ada set rules-nya (Seriouslyequal itu pake with atau toTalking to atau talking with? Apa bedanya toward dengan towards?)
Tapi overall aku paham garis besar tata bahasa Inggris luar kepala. Kalau kamu kemampuan grammar kira-kira udah di level apa?

3.  Interaksi dengan bahasa Inggris setiap hari
Sejak SMA, aku udah biasain untuk baca tulisan (artikel, cerita, dll) dalam bahasa Inggris setiap hari. Settingan handphone dan web browser juga dibuat bahasa Inggris, jadi otomatis hasil pencarian dalam bahasa Inggris semua. Aku juga suka dengerin podfic atau audiobook sambil ngerjain tugas rumah kayak nyuci piring atau nyetrika. Intinya, setiap hari aku selalu interaksi dengan bahasa Inggris. Nah, seberapa harmonis hubungan kamu dengan bahasa Inggris?

4.  Familar dengan TOEFL  iBT
Kalau level kesulitan, TOEFL iBT dan IELTS sebenarnya sebelas-dua belas. Cuma formatnya beda, dan bahasa Inggrisnya TOEFL itu American sedang IELTS itu lebih British. Sebelum tes IELTS, kebetulan aku udah tiga kali tes TOEFL ITP dan pernah sekali tes iBT. Dan kalau skornya dikonversi, prediksi skor IELTSku memang nggak jauh-jauh dari yang aku dapatkan. Kamu sendiri udah pernah tes TOEFL iBT belum?

5.  Tinggal setengah tahun di English-speaking country
Alasan aku tes TOEFL iBT dulu tuh untuk program exchange ke US, dimana aku sempat kuliah satu semester full di kampus yang cuma ada dua orang mahasiswa Indonesia (termasuk aku). Jadi otomatis waktu itu aku jarang banget bisa ngomong pake bahasa Indonesia. Tapi jadinya bahasa Inggrisku tambah fasih, lumayan juga ya. Kalau kamu, udah pernah belum tinggal di luar negeri?

Tapi kalau dipikir-pikir, bahkan dengan modal pengetahuan dan pengalaman yang aku list di atas, skor IELTS-ku nggak sampai 8.0, apalagi 9.0. Menurut kamu kenapa? Nggak salah lagi, ya karena kurang persiapan. Bahkan dulu tes Speaking-ku selesai di tengah jalan karena aku nggak paham cara menjawab pertanyaan yang sesuai kriteria penilaian. Aku tuh tes IELTS nggak dengan persiapan matang bukan karena arogan ya, tapi karena memang situasi nggak memungkinkan. Kalau bisa memilih, tentu aja aku bakal benar-benar nyiapin diri sebelum tes.

Nah, jadi sebenarnya key takeaway dari tulisan ini adalah kalau kamu butuh skor IELTS 7.0 ke atas, nggak ada pilihan selain persiapkan dengan matang. Karena mustahil bisa dapetin skor IELTS tinggi kalau kamu nggak: a) punya kemampuan menggunakan bahasa Inggris yang oke, dan b) familiar dengan format tes IELTS dan kriteria penilaiannya. Aku yang dulu cuma meng-cover poin a, sedang poin b aku buta. Alhasil, jadi lah aku dapat skor overall 7.5.

scholarship · Scholarship

Refleksi Satu Dekade: tentang Global UGRAD (pt. 1/2)

Sudah satu dekade berlalu sejak aku lolos seleksi Global Undergraduate Exchange Program atau yang biasa disingkat Global UGRAD. Kalau kulihat ke belakang, sepuluh tahun ini telah banyak yang kulalui. Diantaranya ada pencapaian-pencapaian yang kurasa berkat pengalaman mengikuti program pertukaran ini, menjadi lebih mudah kugapai.

Kalau para alumni Global UGRAD ditanya kesan mereka tentang program, maka hampir semua akan menjawab senada, “Global UGRAD is a life changing experience,” dan aku juga serupa. Global UGRAD adalah program beasiswa luar negeri pertama yang aku dapatkan, dan merupakan starting point perjalananku, seorang anak perempuan dari keluarga sederhana asal kota kecil di utara pulau Sumatra.

Selama satu dekade, aku hampir tak pernah menulis tentang pengalamanku mengikuti program ini. Tak hanya Global UGRAD, sampai sekarang juga tak ada tulisan tentang pengalamanku mendapat beasiswa lain pasca pulang dari Amerika. Aku punya tendensi berpikir ‘sudah banyak orang lain yang menuliskan pengalaman yang sama. Apalah ceritaku dibanding mereka?” Padahal tak sedikit yang memintaku untuk menulis, untuk berbagi inspirasi, kata mereka. Tapi aku tetap enggan, entah kenapa.

Namun semakin ke sini aku sadar, tak ada salahnya jika kisahku kutuliskan. Malah mungkin dengan kutulis kisah perjalananku dan mengingat kembali momen-momen kala itu, dapat menambah semangat ketika aku merasa lelah. Dan jika dengan menulis aku bisa menginspirasi orang yang membaca, maka alhamdulillah, itu kuanggap bonusnya.

Kali ini, di momen satu dekade pasca lolos seleksi, aku akan berbagi kisahku mulai dari persiapan mengikuti seleksi Global UGRAD, hingga aku berangkat ke kampus dimana aku ditempatkan, yaitu State University of New York-Plattsburgh, di utara negara bagian New York.

Tentang GLOBAL UGRAD

Global Undergraduate Exchange Program atau Global UGRAD adalah salah satu program beasiswa non-degree yang disponsori oleh Bureau of Educational and Cultural Affairs of the United States Department of State, atau departemen pendidikan dan kebudayaan Amerika. Program ini adalah satu-satunya beasiswa Fulbright yang target pesertanya mahasiswa undergraduate (S1). Program Global UGRAD ditujukan bagi mahasiswa yang sudah menyelesaikan setidaknya satu semester, dan sepulang program masih harus mengikuti perkuliahan minimal satu semester sebelum lulus. Kandidat ideal untuk program ini adalah mahasiswa dari underrepresented background (latar belakang bangsa, sosial, budaya, dsb., yang kurang terwakilkan), yang belum pernah pergi ke atau belajar di Amerika.

Di program Global UGRAD, kamu dibiayai untuk belajar di salah satu kampus Amerika selama satu semester, dimana kamu akan mengikuti perkuliahan layaknya mahasiswa internasional lainnya. Selain itu, ada kewajiban melakukan kegiatan community service minimal 20 jam, yang sebenarnya adalah kesempatan berharga buat kamu belajar dan bersosialisasi di luar kampus. Selama program, kamu akan memiliki advisor dari World Learning, lembaga pengelola program Global UGRAD di Amerika, yang membantumu secara virtual. Lalu, sebelum penghujung program, akan ada re-entry workshop dimana kamu akan bertemu dengan para peserta lain dari berbagai negara.

Kenapa mendaftar Global UGRAD?

Jika kamu mengikuti seleksi program Global UGRAD dan sampai di tahap wawancara, maka pertanyaan wajib yang pasti kamu dapat adalah ‘kenapa kamu ingin mengikuti Global UGRAD/belajar di Amerika?’. Meskipun pertanyaan ini sederhana, tapi jawaban kamu bisa menjadi penentu bagi pewawancara untuk mempertimbangkanmu sebagai calon peserta. Tentu sebenarnya banyak alasan menarik bagi mahasiswa Indonesia untuk mengikuti program ini. Pertama, beasiswa ini fully-funded, meng-cover semua biaya mulai kamu berangkat hingga kembali ke kampung halaman. Kedua, kamu bisa tinggal di Amerika selama 5–6 bulan sambil kuliah dan mendapat pengalaman lainnya. Ketiga, kamu akan mendapat teman dari mancanegara. Keempat, kamu bisa bergabung di komunitas alumni exchange Amerika. Tentu saja, dengan mengikuti program ini kamu pasti membuat orang tua dan keluargamu bangga, dan alasan-alasan lainnya. Namun yang menjadi PR adalah, bagaimana kamu menyampaikan alasanmu sedemikian rupa hingga pewawancara yakin kamu layak dipilih dari kandidat-kandidat lainnya. Tentu harus ada alasan yang spesifik dan relevan bagi dirimu sendiri, sesuatu yang kamu cari yang kamu percaya akan ditemukan dengan mengikuti program ini.

Kilas balik sedikit, aku sendiri sudah ingin mendaftar program Global UGRAD sejak semester satu. Waktu itu aku membaca poster besar beasiswa Fulbright yang ditempel di papan pengumuman fakultasku. Ketika mataku sampai ke tulisan Global Undegraduate Exchange Program dan kubaca keterangannya, seolah ada sesuatu yang terbangun dalam dadaku (sedikit lebay, tapi memang benar). Aku ingat waktu itu langsung aku mencari informasi lebih lanjut dengan membuka website AMINEF, membaca detail persyaratannya, dan men-download formulirnya. Padahal, aku yang masih di semester satu belum eligible untuk mendaftar, aku tau. Tapi itu tak menyurutkan semangatku, aku justru tak sabar untuk segera naik ke semester tiga.

Meski belum bisa mendaftar, aku tetap mengisi formulir yang sudah kuunduh (waktu itu kamu masih harus mengirim hardcopy semua dokumen via pos). Aku membuat beberapa copy, dan semua kuisi dengan teliti. Lalu formulirnya kusimpan diantara tumpukan buku-buku perkuliahan, sesekali kubuka dan kubaca untuk menjadi penyemangat. Sayangnya, di semester ketiga perkuliahan sangat padat dan aku tak yakin bisa maksimal mempersiapkan persyaratan mendaftar Global UGRAD. Dengan berat hati kuputuskan menunda pendaftaran dan memprioritaskan perkuliahan. Namun, seperti sebelumnya, aku tetap men-download dan mengisi formulir pendaftarannya. Kuletakkan di atas formulir tahun sebelumnya, kali ini sebagai pengingat, tahun depan aku tak bisa menunda lagi.

Lalu, jika ditanya apa motivasiku mendaftar program Global UGRAD, sebenarnya sederhana saja: curiosity dan keinginan men-challenge diri sendiri. Aku ingin tau bagaimana rasanya tinggal dan kuliah di Amerika, dan apa bedanya dengan Indonesia. Kenapa berbeda? Apa penyebabnya? Aku ingin tau semuanya. Di samping itu, waktu itu aku mulai haus tantangan, karena merasa perkuliahanku membosankan. Aku bosan dengan rutinitasku kuliah ‘kupu-kupu’ (kuliah-pulang-kuliah-pulang) karena entah kenapa aku memutuskan tak mengikuti organisasi mahasiswa di kampus (mungkin karena kesan pertama yang tak mengenakkan, tapi ini cerita untuk lain waktu). Maka dengan mendaftar program Global UGRAD aku ingin men-challenge diri sendiri, ingin mengetes apa aku bisa lolos semua tahap seleksi, dan jika terpilih, apa aku bisa survive mengikuti program ini. Bisa dibilang aku waktu itu masih mencari jati diri, dan merasa mengikuti program Global UGRAD bisa membawaku lebih dekat dengan sosok pribadi Amal yang kuingini.

Proses seleksi

a. seleksi berkas dan wawancara

Di semester lima, akhirnya aku siap untuk mendaftar. Sebelumnya, aku sempat konsultasi dengan salah satu dosen di jurusanku, dan ternyata beliau me-referku ke Teaching Fellow dari Amerika yang saat itu ditempatkan di fakultasku. Sebenarnya aku sengaja tidak meminta bantuan dari beliau karena a) kelasku waktu itu tidak diajarnya dan b) aku malas dikira PDKT dengan dosen bule. Tapi suatu hari, ketika aku dan teman-teman sekelasku selesai mata kuliah terakhir (waktu itu sudah jam 6 sore), dua figur menantiku di koridor fakultas, pak dosenku dan Mr. Teaching Fellow. Ternyata aku diminta menjumpai beliau di kantornya keesokan harinya.

Meski awalnya aku berniat menyiapkan semua berkas pendaftaran sendiri, dan hanya meminta bantuan dosen berupa surat rekomendasi, tapi aku bersyukur direkomendasikan oleh dosenku ke Mr. Teaching Fellow. Tak hanya mengecek formulir yang telah kuisi, beliau juga mem-proofread esaiku, meminta untuk menjadi salah satu referee yang menulis surat rekomendasi untukku (Benar, kamu nggak salah baca. Bukannya aku, malah dia yang meminta jadi referee), dan bahkan meng-arrange latihan wawancara untukku dengan dosen lainnya setelah aku dinyatakan lolos seleksi tahap awal. Ketika aku sampaikan ucapan terima kasih padanya setelah dinyatakan lulus, dia malah berkata, “I didn’t really do anything. It’s all you, Amal.” Tapi tetap saja, aku tak akan pernah lupa jasa-jasa beliau.

Pengumuman seleksi wawancara waktu itu masih dilakukan via telpon. Aku yang sedang main-main di Istana Maimun dengan temanku tiba-tiba dihubungi oleh AMINEF, dikabarkan bahwa aku lolos seleksi tahap pertama dan diundang ke Jakarta untuk wawancara. Wawancaranya di kantor AMINEF yang lama (waktu itu masih di Gedung Balai Pustaka), dan aku giliran pertama. Aku sudah tiba sekitar satu jam sebelum wawancara dimulai, dan sempat bertemu beberapa kandidat yang di antaranya menjadi teman satu batch-ku.

Wawancaranya waktu itu di salah satu ruangan yang tidak terlalu besar, di tengahnya ada meja bundar dengan lima kursi yang empat sudah diduduki oleh pewawancara (2 orang Amerika dan 2 orang Indonesia). Aku ingat salah satu pewawancaranya adalah Rektor Universitas Bina Nusantara. Aku di dalam selama kurang lebih satu jam, mereka bertanya seputar informasi yang kutuliskan di formulir dan esaiku. Ada beberapa pertanyaan unik yang masih kuingat. Salah satunya alasan aku bisa bahasa India (kujawab karena sejak kecil biasa nonton film India dengan ibuku, dan suatu hari ketika nonton aku tiba-tiba bilang ke ibu, “Mak, itu subtitle-nya salah”, dan barulah aku sadar aku paham bahasanya).

Aku juga ditanya apa yang paling kutakutkan tentang tinggal di Amerika. Waktu itu dengan polosnya aku menjawab, “I’m not really afraid, but something I’m worried about is I don’t know how to get halal food there.” Mendengar jawabanku, para pewawancara sontak tertawa. Terang saja, bukannya masalah jauh dari keluarga atau bahkan islamofobia, yang kukhawatirkan justru urusan makan. Tapi kupikir jawabanku yang polos dan lugas itu malah menjadi selling point bagi mereka, karena dari situ mereka bisa menilai bahwa aku pribadi yang berani dan sangat sederhana. Dan ketika aku menutup pintu ruangan selesai wawancara, aku terbatin ‘ah, sepertinya aku lulus.’ Dan prediksiku benar, walau aku tak berani cerita ke siapa-siapa (ini juga terjadi dengan dua seleksi program beasiswa yang kuikuti pasca Global UGRAD. But again, itu cerita untuk lain waktu ya.)

b. TOEFL iBT dan seleksi tahap akhir

Di akhir tahun 2010, sekitar dua minggu setelah wawancara, aku kembali dihubungi AMINEF bahwa aku lolos tahap wawancara, dan selanjutnya adalah test TOEFL berbasis internet atau iBT. Untungnya, di Medan ada test center TOEFL iBT jadi aku tak perlu terbang ke Jakarta lagi. Aku dijadwalkan tes di bulan Januari. Di tahun 2010/2011 masih sulit sekali mendapatkan materi TOEFL iBT dari internet. Aku sungguh beruntung karena kali ini, Mr. Teaching Fellow juga meminjamkanku guide book TOEFL iBT lengkap dengan CD yang bisa diinstal ke laptopku. Waktu yang tersisa sebelum tes kuhabiskan dengan memfamiliarkan diriku dengan format tesnya. Sekitar dua minggu setelah tes, aku mengecek hasilnya dan, alhamdulillah, skorku cukup untuk apply ke universitas.

Setelah mendapat skor TOEFL iBT, aku diminta melengkapi beberapa berkas tambahan, seperti terjemahan ijazah SMA dan rekomendasi dari guru SMA, untuk dikirim ke US Department of State yang berwewenang menentukan kandidat yang akan diberangkatkan. Tapi lucunya, aku lebih dulu menerima email berisi Letter of Acceptance dari SUNY Plattsburgh sebelum mendapat kabar dari AMINEF bahwa aku lulus tahap akhir seleksi. Beberapa hari kemudian baru lah aku mendapat email dari AMINEF yang menyatakan aku terpilih menjadi salah satu delegasi Indonesia untuk program Global UGRAD tahun 2011/2012.

Pre-Departure Orientation dan persiapan keberangkatan

Image for post

Sekitar bulan Mei 2011, aku berangkat ke Jakarta untuk mengikuti Pre-Departure Orientation (PDO). Kegiatan ini diadakan AMINEF untuk memberikan orientasi sebelum keberangkatan bagi semua penerima beasiswa Fulbright. Jadi pesertanya bukan hanya delegasi Global UGRAD, tetapi juga penerima program beasiswa Fulbright lainnya. Di PDO baru lah terasa nyata bahwa aku sudah selesai melalui semua proses seleksi dan benar-benar akan berangkat ke Amerika untuk studi. Di sini aku juga akhirnya bertemu dengan rekan-rekan satu angkatanku delegasi Global UGRAD tahun ajaran 2011/2012.

Namun, meski merasa senang, aku mengikuti PDO dengan hati resah. Beberapa minggu sebelum berangkat, sebagai salah satu persyaratan dari universitas aku melakukan medical check up. Saat mendapat hasilnya, aku diberitahu dokter ternyata ada flek di paru-paru kiriku. Katanya, jika dibiarkan, kondisiku bisa memburuk dan menjadi TB akut. Tak hanya gagal mendapat keterangan sehat dari rumah sakit, aku juga harus menjalani pengobatan selama enam bulan dan check up rutin sebulan sekali sampai hasil rontgen dadaku bersih dan aku dinyatakan bebas TB.

Aku yang di awal sedih dan merasa hampir putus asa karena usahaku berbulan-bulan (bertahun-tahun bahkan, kalau dihitung sejak semester satu) terancam sia-sia, memberanikan diri untuk konsultasi dengan pihak AMINEF mengenai situasiku saat itu. Tapi syukur lah, karena aku dijadwalkan berangkat ke SUNY Plattsburgh pada awal Spring Semester (Januari 2012), aku masih ada waktu menjalani pengobatan di Indonesia tanpa harus menunda keberangkatan atau bahkan mundur dari program. Di bulan Oktober 2011, akhirnya aku mendapat all clear dari dokterku dan bisa mengirimkan hasil medical check up terbaru ke AMINEF. Bulan November aku ke Jakarta lagi untuk mengurus Visa di Keduataan Amerika.

Pada 22 Januari 2012, aku pun akhirnya meninggalkan Indonesia untuk pertama kalinya. Aku berangkat hanya membawa uang satu juta rupiah yang waktu itu ditukar ke US Dollar hanya bernilai sekitar 100-an. Uang ini kemudian kupakai membeli oleh-oleh untuk kelurga dan teman-temanku, sedang semua kebutuhanku selama di sana kucukupi dengan stipend $350/bulan dari World Learning.

Demikian lah kisahku mendapatkan beasiswa Global UGRAD. Anak perempuan pemilik warung nasi dari kota kecil di Sumatra Utara, berangkat studi ke Amerika dengan beasiswa. Siapa yang menyangka hal ini mungkin? Bermimpi pun kala itu keluargaku tak berani. Pengalaman ini mengajarkan padaku, bahwa usaha yang dibarengi izin Tuhan itu lah yang menciptakan keajaiban.

Sekian dulu untuk bagian pertama tentang Global UGRAD. Di bagian kedua, aku akan menceritakan pengalamanku selama mengikuti program hingga pulang ke kampung halaman.

Untuk info lengkap mengenai Global UGRAD, bisa cek di website AMINEF.

Relationship

Pesan buat Kamu yang akan Mendampingi Suami Studi di Luar Negeri

Kamu mau ikut suami yang akan atau sedang studi di luar negeri? Excited tentunya, bisa jadi kesempatan honeymoon kedua. Tapi jangan terlalu senang dulu ya, sebelum kamu pastikan kamu sudah menyiapkan semuanya. Ada banyak yang perlu disiapkan sebelum kamu berangkat mendampingi pasanganmu studi di luar negeri. Mulai dari mengurus Visa, mencari tempat tinggal, hingga belanja barang-barang yang perlu dibawa. Persiapan material yang demikian memang penting, tapi ada hal yang nggak kalah penting untuk kamu siapkan agar keharmonisan hidup kalian di sana tetap terjaga.

Menjadi pendamping suami yang sedang studi di luar negeri itu tak semudah yang kamu kira. Penting sekali untuk memiliki pemahaman dan persiapan mental sebelum kamu pindah ke luar negeri untuk mendampingi suami. Karena jika kamu berangkat dengan mindset dan ekspektasi yang salah, maka dampaknya bisa fatal ke kehidupan rumah tangga. Sudah ada contoh pasangan-pasangan yang berpisah karena istri yang mendampingi suaminya studi salah ekspektasi. Jangan sampai ini terjadi ke kamu ya.

Lalu apa saja hal yang perlu kamu pahami untuk menjaga keharmonisan rumah tangga saat mendampingi suami studi di luar negeri? Silakan simak poin-poin di bawah ini.

a. Di kisah ini, suamimu tokoh utama, kamu peran pendukungnya

Tujuan kamu berangkat ke luar negeri adalah untuk mendampingi pasanganmu yang akan melanjutkan studi. Tentunya kalian sepakat bahwa dengan bersama-sama, maka akan lebih baik bagi kalian berdua. Tapi yang perlu kamu pahami adalah, dalam bab kehidupan kalian yang ini, suamimu lah tokoh utamanya.

Dia ada di fase yang berat, harus membagi fokus antara studi dan menjadi kepala keluarga. Studi di kampus luar negeri jelas tak sama dengan studi di universitas lokal, beban perkuliahan dan beban mental yang ditanggung lebih besar. Lain lagi jika pasanganmu harus menyambi kuliah dan bekerja di waktu yang sama.

Maka peran kamu di sini sebegai pasangan adalah menyediakan ‘support system’ baginya. Tujuan utama kamu adalah memastikan kalian melewati fase ini dengan minim drama. Untuk itu, kadang kamu perlu mengesampingkan egomu dan fokus ke apa yang suamimu butuhkan. Kamu juga harus paham jika dia tak punya banyak waktu untuk membawamu jalan-jalan, dan kalau di rumah pun dia punya banyak kerjaan. Karena kembali lagi, studi di luar negeri itu berat sekali.

Oleh karena itu, sebagai pendamping yang fungsinya memberikan support, kamu harus memudahkan apa yang bisa dimudahkan, jangan justru mempersulit keadaan. Banyak-banyak bersabar, coba lebih pengertian, dan jangan mudah berkecil hati.

b. Tapi, pemeran pendukung juga perlu punya story arc sendiri

Meski suamimu tokoh utama dalam chapter hidup kalian saat ini, bukan berarti kamu harus total mendedikasikan seluruh jiwa raga untuk mendukungnya dan lupa memenuhi kebutuhanmu sebagai makhluk sosial juga. Justru setelah kamu selesai dengan diri sendiri lah baru kamu bisa menjadi provider support yang baik bagi suami. Jadi, di samping tugas utama menjadi pendamping suami, kamu juga perlu merawat diri.

Merawat diri di sini maksudnya menjaga kesehatan jiwa dan raga. Tak hanya fisik yang fit, tapi kesehatan mental kamu juga perlu dijaga. Penting untuk punya rutinitas yang mendukungmu agar tetap produktif selagi suamimu fokus menyelesaikan studinya. Berolah raga rutin, membaca buku, menulis, atau mencoba hobi yang baru bisa membuat hari-harimu lebih penuh makna. Selain itu, jangan lupa untuk keluar dan mengeksplorasi kota, jangan hanya stay di rumah saja. Ada banyak tempat yang bisa dikunjungi di kota domisilimu yang baru.

Jika kamu terbiasa bekerja sebelum ikut suami, maka kamu bisa mencari part time job (kalau peraturan imigrasi mengizinkan bekerja) atau volunteering opportunity yang sesuai dengan minatmu. Banyak organisasi yang mencari sukarelawan, dan ini merupakan kesempatanmu untuk bertemu orang baru yang mungkin bisa dijadikan teman. Kalau tak ingin bekerja, kamu juga bisa mendaftar kelas bahasa atau short course lainnya. Yang penting adalah kamu punya rutinitas yang memotivasi kamu untuk tetap berpikir positif dan merasa produktif. Namun, jangan sampai kamu punya terlalu banyak aktivitas sampai malah jadi tak punya waktu untuk suami ya.

c. Komunikasi menjaga balance antara kamu dan dia

Balance itu perlu dijaga, dan di sini komunikasi menjadi kunci. Kamu dan suami harus saling terbuka dan memiliki modus operandi rumah tangga yang disepakati bersama. Saling mengingatkan agar tak terlalu tenggelam dalam dunia masing-masing itu penting juga. Meski sama-sama sibuk, jangan lupa juga untuk menghabiskan waktu bersama.

Momen tinggal di luar negeri mendampingi suami yang sedang studi bisa menjadi tantangan bagi keutuhan rumah tangga jika kamu tak membekali diri dengan persiapan mental dan penyesuaian ekspektasi. Namun, jika tantangan ini bisa kamu lalui, maka justru pengalaman hidup di luar negeri akan lebih menguatkan hubunganmu dengan suami.

Dan bagaimana akhir chapter ini, yang menentukan adalah dirimu sendiri.

Travel

Meminimalisir Drama Saat Terbang Long-distance Membawa Bayi

Waktu aku berangkat menyusul suami yang sedang studi di Amerika tahun 2019 kemarin, aku hanya berdua dengan Fatih, anakku yang waktu itu baru beranjak 9 bulan. Fatih belum bisa jalan, berdiri saja baru tahan sebentar. Alhamdulillah, kami sampai di DC dan berkumpul kembali dengan suami dalam keadaan sehat, walau jika ditanya apa aku mau mengulang pengalaman itu, mungkin jawabanku tidak, terima kasih.

Perjalanan jauh naik pesawat membawa bayi memang berpotensi penuh drama, tak hanya menguras tenaga tapi juga emosi. Tapi, bukan berarti kamu nggak bisa mengantisipasi agar perjalananmu dengan si buah hati lebih lancar, dan meskipun drama pasti tetap ada (namanya juga bawa bayi), tapi masih bisa kamu atasi tanpa merusak momen liburan kamu tentunya. Jadi apa saja yang perlu kamu persiapkan agar perjalanan membawa si buah hati lebih lancar dan minim drama? Lanjut baca sampai selesai ya!

1. Sebelum terbang

Ada hal-hal yang perlu kamu siapkan dari beberapa minggu atau beberapa bulan sebelum tanggal keberangkatan kamu. Bahkan begitu kamu dan pasangan mulai punya rencana liburan atau pergi ke suatu tempat yang mengharuskan kamu naik pesawat dengan waktu yang lama.

a. Pilih maskapai yang family friendly

Sebelum booking tiket, penting banget untuk lihat-lihat review maskapai mana yang paling “family friendly” atau menyediakan pelayanan khusus bagi penumpang yang bepergian dengan keluarga/anak kecil. Pelayanan ini bentuknya bervariasi, tergantung maskapai yang kamu pilih. Ada yang memprioritaskan boarding di awal, menyediakan mainan dan snack untuk perjalanan, hingga pramugari yang khusus bertugas membantu penumpang yang membawa anak kecil/bayi.

Ini akan sangat membantu apalagi buat kamu yang seperti aku, terbang tanpa didampingi pasangan atau pun anggota keluarga lainnya. Sepanjang perjalanan, setiap kali ingin ke toilet aku terpaksa membawa Fatih karena dia nggak mau kutinggal. Tapi pernah sekali dia sedang asik diajak bercanda oleh penumpang di sebelahku dan aku mengambil kesempatan untuk ke toilet. Ketika aku di dalam toilet, tak lama aku mendengar tangisan keras anakku, dan aku pun buru-buru membersihkan diri. Eh, taunya saat aku keluar, Fatih sudah digendong oleh salah satu pramugari dan tangisnya pun sudah berhenti. Kemudian beberapa jam sebelum pesawat kami mendarat di D.C., Fatih tiba-tiba menangis lama sekali, kemungkinan karena masuk angin sebab sudah 30 jam di perjalanan. Aku berusaha tetap tenang dan nggak panik, tapi sumpah waktu itu hatiku sudah bergetar. Dan kalau bukan karena pramugari yang baik sekali, membantuku membawakan tas kecilku yang berisi minyak telon dan mengajakku pindah duduk di kursi pramugari agar Fatih bisa lebih tenang, mungkin aku sudah mengalami mental breakdown. Beliau juga membawakanku air hangat dan menemaniku hingga Fatih tak lagi menangis.

b. request baby bassinet dan baby meal

Setelah kamu book tiket, jangan lupa segera request baby bassinet ke pihak maskapai, karena persediaan bassinet tiap flight terbatas dan prinsipnya ‘first come first served’. Ukuran bassinet tiap maskapai berbeda-beda ya, jadi pastikan sebelum pilih maskapai, kamu cek dulu spesifikasi bassinet yang disediakan. Selain itu, meski di sebagian maskapai untuk request bassinet kamu cukup ke halaman manage my booking di website maskapainya, ada juga yang mengharuskan kamu untuk request atau konfirmasi via telpon. Oh iya, ada juga maskapai yang untuk request bassinet kamu harus bayar ekstra, dan bahkan ada yang sama sekali nggak menyediakan bassinet untuk bayi. Oleh karena itu, sekali lagi hati-hati pilih maskapai ya!

Aku dan Fatih saat berangkat dulu terbang dengan Emirates, dan ukuran bassinet-nya lumayan besar, lebih dari cukup untuk Fatih yang waktu itu masih 9 bulan. Ketika pulang ke Indonesia, kami naik All Nippon Airways (ANA), dan ternyata bassinet-nya kekecilan untuk Fatih yang sudah berumur 20 bulan.

Untuk request baby meal, kamu juga tinggal input di manage my booking di website maskapai.

c. perhatikan durasi transit

Terbang long distance biasanya mengharuskan kamu transit satu atau dua kali selama perjalanan. Saat memilih penerbangan, perhatikan durasi masing-masing transit, jangan pilih yang terlalu singkat (kurang dari 2 jam) ataupun terlalu lama. Saat transit, bisa jadi buah hati kamu perlu ganti popok, makan, atau menyusu, dan jika waktu transit terlalu singkat maka kamu akan sangat terburu-buru. Sedang kalau transit terlalu lama juga nggak ideal karena kamu akan lelah.

Waktu akan booking tiket dulu, aku hampir memilih penerbangan dengan waktu transit 1.5 jam, karena opsi lainnya adalah menunggu 9 jam sebelum second leg. Akhirnya aku memutuskan untuk konsultasi dengan pihak maskapai dan disarankan memilih flight yang lebih lama. Tapi serius, transit 9 jam membawa bayi itu capek sekali.

d. pilih baby carrier dan travel stroller yang pas

Kalau kamu terbang dengan bayimu sendirian, maka lebih baik si kecil kamu gendong dengan carrier agar tangan kamu free untuk membawa bagasi atau tas kabin dan keperluan lainnya. Pilihlah carrier yang nyaman buat bayi dan juga pas di kamu. Ada banyak sekali pilihan carrier yang recommended, salah satunya Ergobaby.

Jika terbang dengan pasangan atau keluarga, maka travel stroller bisa jadi pilihan kamu. Travel stroller atau cabin stroller yang ringan, bisa dilipat dan dibuka dengan satu tangan akan sangat membantu meringankan beban perjalanan kamu. Apalagi jika kamu transit selama beberapa jam. Meskipun umumnya di airport sekarang sudah disediakan stroller untuk anak, biasanya jumlahnya terbatas. Lagipula, menggunakan stroller sendiri lebih aman dan nyaman untuk buah hatimu.

e. persiapkan kebutuhan bayi lainnya

Ketika waktu terbang sudah dekat, mulai deh persiapkan hal-hal lain yang dibutuhkan si buah hati selama perjalanan. Ini mencakup pakaian ganti di pesawat, MPASI, susu, mainan, dan sebagainya.

Untuk baju ganti, baiknya siapkan baju yang nyaman, hangat, dan nggak ribet. Onesie dengan zipper bisa jadi opsi buat kamu, karena lebih mudah dibuka dan dipasang ketika harus ganti popok daripada yang pakai kancing.

Kemudian, meski kamu sudah request baby meal, lebih baik tetap sediakan MPASI atau makanan buat si buah hati di perjalanan ya. Karena bisa jadi seperti anakku, si kecil nggak doyan makanan pesawat. Membawakan makanan yang dia sukai sangat membantu untuk menjaga mood si kecil loh.

Selain itu, siapkan juga buku dan mainan favorit si kecil untuk dibawa ke kabin ya. Ini penting banget supaya si kecil nggak bosan di pesawat. Kalau buah hati kamu sudah diperkenalkan dengan screen time, kamu juga bisa download video-video favoritnya ke laptop atau tablet untuk ditonton di pesawat. Pokoknya siapkan apapun yang bisa menjaga agar si buah hati terhibur di jalan, karena kalau si kecil bosan dan bad mood, maka potensi terjadi drama akan semakin besar.

Jangan lupa juga untuk packing perlengkapan mandi, minyak telon atau minyak kutus-kutus, dan perelengkapan makan si kecil ya. Nah, baiknya semua kebutuhan dan perlengkapan bayi yang sudah kamu siapkan disusun di satu tas atau ransel yang gampang diakses selama di dalam pesawat.

2. Dalam perjalanan

a. di pesawat

Sebelum boarding, usahakan si kecil sudah kenyang agar hatinya juga senang. Saat take off dan landing, getaran mesin pesawat bisa menyebabkan telinga bayi sakit. Cara paling ideal untuk menghindari ini adalah dengan tidur. Jika waktu boarding dan take off kamu sesuaikan dengan jam tidur si kecil, maka kamu tinggal pastikan dia duduk nyaman di pangkuan kamu sebelum ditidurkan. Jika si kecil nggak mau tidur, coba diberi susu atau makanan, karena gerakan menyusu bisa membantu mengurangi efek getaran di telinganya. Opsi lainnya bisa dengan memakaikan earmuff. Namun ini perlu pembiasaan sejak beberapa hari sebelum terbang, agar saat di pesawat si kecil merasa nyaman saat dipakaikan earmuff.

Kalau kamu sudah request bassinet dan dikonfirmasi oleh pihak maskapai, maka kamu akan duduk di bulkhead seat yang leg room-nya lumayan lapang dibanding seat yang lain. Jika anak kamu nggak betah berlama-lama di bassinet saat dia nggak tidur, kamu bisa manfaatkan leg room ini untuk jadi space bermain si kecil. Gunakan selimut yang dibagikan awak pesawat sebagai alas duduk, dan biarkan si kecil bermain atau nonton disitu. Ketika si kecil sedang asik, kamu bisa manfaatkan waktu untuk makan, minum, atau sekedar relaksasi.

Kalau kamu terbang sendiri dengan bayi, maka kemungkinan besar kamu akan kurang tidur selama perjalanan. Sebaiknya kamu manfaatkan waktu si kecil tidur untuk tidur juga atau sekedar memejamkan mata sejenak. Kalau kamu terbang dengan pasangan, maka kamu dan pasangan bisa tidur bergantian. Walau ini juga untung-untungan sih. Dalam perjalanan kami pulang ke Indonesia, karena bassinet kekecilan, Fatih jadi sulit tidur selama perjalanan dan harus selalu dipangku. Alhasil aku juga cuma tidur total 2–3 jam karena Fatih menolak tidur dipangku ayahnya.

b. saat transit

Manfaatkan waktu transit untuk bersih-bersih dan mengganti baju si kecil. Biasanya di nursing room bandara disediakan air hangat yang bisa kamu manfaatkan untuk memandikan si buah hati, atau sekedar mengelap seluruh badan dengan handuk atau sapu tangan.

Jika waktu transit lama, maka si kecil bisa kamu tidurkan di kasur yang disediakan di nursing room. Kamu bisa manfaatkan waktu yang ada untuk bersih-bersih, ganti pakaian, dan istirahat.

Nah, itu dia beberapa hal yang bisa membantu kamu meminimalisir drama saat terbang jarak jauh membawa anak bayi. Namun, bukan berarti jika kamu lakukan semua poin di atas, perjalanan kamu akan benar-benar drama-free ya. Namanya travelling with a baby, pasti ada saja hal yang di luar ekspektasi. Yang penting, selain persiapan yang matang, adalah pastikan kamu fit baik fisik maupun mental sebelum berangkat ya. Penting banget untuk menjaga agar mood kamu selalu baik selama di jalan, karena si buah hati bisa merasakan dan akan terpengaruh oleh mood orang tuanya.

Safe travels!

Uncategorized

Perjalanan IELTS-ku

Buat kamu yang sedang berjuang untuk mencapai cita-cita bersekolah ke luar negeri dengan beasiswa, pastinya IELTS bukan nama yang asing lagi. Tentunya kamu juga tau perjuangan meraih skor IELTS yang dibutuhkan untuk bisa mendaftar beasiswa atau program di kampus tujuan bukanlah jalan yang mudah bagi banyak orang. Bahkan, tak sedikit yang merogoh saku hingga puluhan juta untuk ikut bimbingan persiapan IELTS. Belum lagi yang harus tes berulang kali namun tak juga berhasil memperoleh hasil yang mumpuni. 
 
Ceritaku sedikit berbeda. Di akhir tahun 2014, aku dinyatakan lulus seleksi batch terakhir beasiswa LPDP. Kala itu, pendaftar jalur reguler masih dibolehkan menggunakan skor TOEFL ITP untuk mendaftar program luar negeri. Aku pun tak pikir panjang memutuskan untuk menunda tes IELTS dan mengunggah skor TOEFL terakhirku yang alhamdulillah masih berlaku waktu itu. Di tahap wawancara aku sempat ‘ditegur’ karena berani-beraninya cuma bawa hasil tes TOEFL untuk mendaftar program luar negeri. Namun dengan tenang aku jawab, “Niat saya memang dapat beasiswa dulu, Pak. Kalau lolos baru saya tes IELTS, karena biaya tesnya lumayan mahal.” 
 
Pewawancara yang menanyaiku kelihatan kurang terkesan dengan jawabanku, namun aku tak masukkan ke hati. Beliau mungkin nggak paham situasiku yang waktu itu harus ngajar di tiga tempat berbeda dari Senin sampai Sabtu, berangkat pagi pulang malam, cuma untuk memenuhi kebutuhan hidupku di Medan. Namun aku tetap berusaha meyakinkan. “Kalau saya lolos, Pak, saya janji akan segera tes IELTS,” tambahku. 
 
Sesuai janjiku, begitu dapat kabar aku lulus seleksi, aku langsung cari informasi tes IELTS di Medan. Aku sempat bertanya ke temanku yang waktu itu juga lulus di batch yang sama, dan sudah duluan tes IELTS. Waktu itu, walau tak lagi asing dengan tes TOEFL (aku sudah beberapa kali tes TOEFL ITP dan pernah sekali tes TOEFL iBT), aku sama sekali buta mengenai IELTS. Aku cuma tau kalau IELTS itu tes mirip TOEFL versi British. Dari temanku, aku paham garis besar komponen tes IELTS dan memutuskan untuk mencari materi belajar sebelum mengikuti tes. Itu awal Januari 2015, dan aku mendaftar untuk tes di akhir bulan itu juga. 
 
Ketika orang lain mempersiapkan diri minimal 3 bulan sebelum mendaftar tes yang ofisial, aku tak punya pilihan selain mendaftar sesegera mungkin. Targetku mulai studi S2 September 2015, dan kuputuskan paling lambat April aku harus sudah dapat LOA. Berhubung kampus tujuanku termasuk yang lumayan lama memproses berkas pendaftar, aku harus sudah mengirim semua berkasku di bulan Februari. Maka aku cuma punya waktu kurang dari sebulan untuk persiapan tes IELTS. 
 
Waktu itu, opsi untuk mengikuti bimbingan persiapan IELTS sama sekali tak terbesit di pikiranku. Singkatnya, aku nggak punya cukup biaya untuk bayar guru. Untuk mendaftar tesnya saja aku harus minta bantuan orang tua, karena gajiku sebagai guru di Medan cuma cukup untuk bayar sewa kos-kosan dan kebutuhan dasar. Pilihanku cuma satu: belajar sendiri. Namun aku harus tau diri dan menerima fakta kalau aku juga nggak punya cukup waktu dan energi untuk belajar maksimal. Aku yang setiap hari berangkat ngajar jam 7.00 pagi dan pulang jam 10 malam cuma punya waktu senggang setiap hari Minggu. Namun aku tetap sisihkan sedikit waktu di sela-sela kelas untuk latihan menjawab soal Reading atau Listening. Aku cuma fokus ke dua skill itu, lagi-lagi karena waktu belajar yang minim dan dua skill itu yang bagiku lebih mudah untuk ditingkatkan dalam waktu seadanya. Untuk Writing, aku cuma pelajari garis besar instruksi dan jenis task-nya, bahkan tak sempat latihan menulis. Speaking aku sama sekali tak terpikir untuk belajar lagi. 
 
Targetku realistis: dapat skor cukup untuk daftar ke kampus tujuan. Doaku selama persiapan tes cuma semoga aku nggak perlu tes ulang. Aku cukup optimis waktu itu. Bukannya mau sombong, namun sebagai guru bahasa Inggris yang juga pernah setengah tahun tinggal di US, aku merasa justru malu kalau hasil tesku jelek. Walau aku tau nggak sedikit orang yang sudah bolak balik ke luar negeri tapi harus kursus lagi sebelum tes IELTS. Di hari tes, alhamdulillah semua berjalan lancar, kecuali tes Speaking yang bisa dibilang ‘berakhir mendadak’. Tapi aku tak mau ambil pusing. Sudah kulakukan yang bisa kulakukan, pikirku, sekarang waktunya fokus ke depan. 
 
Empat belas hari kemudian hasil tesku keluar. Alhamdulillah, doaku dikabulkan, aku nggak perlu tes ulang. Untuk bisa mendaftar ke program studi tujuanku, aku butuh skor overall 7.0 dengan skor Writing minimal 6.5. Skor IELTS-ku overall 7.5 dengan skor Writing yang sama. Aku cukup puas dengan skor Listening-ku (8.5), dan bersyukur menerima skor Reading dan Speaking-ku (keduanya 7.0), berhubung aku suka ‘zone out’ kalau membaca teks yang boring (and trust me, IELTS passages are the epitome of boring) dan mengingat aku bahkan tak mempersiapkan diri untuk Speaking. 
 
Bulan-bulan berikutnya aku disibukkan dengan persiapan pendaftaran kampus, PK (Persiapan Keberangkatan) LPDP, dan persiapan mengurus Visa ke UK. Pengalaman IELTS-ku tak lagi kupikirkan, hingga suatu hari beberapa bulan setelah aku mulai studi di Edinburgh, seorang teman yang punya kursus bahasa Inggris memintaku mengajar IELTS ‘jarak jauh’. Berhubung perkuliahanku tak terlalu padat, aku punya cukup banyak waktu luang, maka permintaan temanku langsung kuiyakan. Sebelum mulai mengajar aku pun mencari informasi dan materi yang kubutuhkan untuk mengajar IELTS. Di situlah aku baru sadar, andai saja aku punya waktu lebih untuk mempersiapkan diri sebelum aku tes dulu, maka bukan tak mungkin skor yang kudapat jauh lebih tinggi. 
 
Masih ingat tes Speaking-ku yang berakhir mendadak? Tes Speaking IELTS terdiri dari tiga bagian, dan di bagian ketiga kamu diminta menjawab sekitar 3–5 pertanyaan secara ‘panjang lebar’, lengkap dengan argumen dan support. Tapi aku yang waktu itu bahkan tak sempat mengecek format tes Speaking sama sekali nggak tau mengenai ini. Di awal, tes Speaking-ku berjalan lancar, aku dengan mudah bisa menjawab pertanyaan santai si pewawancara. Bahkan bagian kedua aku nggak terlalu kesulitan. Tapi bagian akhir tes, ketika si pewawancara menanyakan pendapatku, aku cuma menjawab dengan satu kalimat singkat. Barulah aku sadar kenapa raut muka beliau seolah berkata ‘tell me more’ ketika aku cuma menatapnya balik sambil mikir ‘what else do you want?’ Karena itulah si pewawancara langsung mengakhiri tesnya. Mungkin nggak berlebihan kalau aku beranggapan skor IELTS-ku waktu itu bisa di atas 8.0 kalau saja aku sempat latihan Speaking. Atau paling tidak, kalau aku paham aku harus ngapain aja di setiap bagian tesnya. 
 
Tapi aku nggak mau terlalu berlarut-larut memikirkan itu. Toh targetku sudah tercapai, aku sudah diterima di kampus tujuanku dan mulai perkuliahan. Namun pengalaman itu mengajarkanku sesuatu. Dalam mempersiapkan diri untuk tes IELTS, dua hal ini adalah game changer yang sangat signifikan: latihan dan bimbingan. 
 
Sebagai guru bahasa Inggris, aku paham betul tantangan yang dihadapi anak-anak Indonesia dalam belajar. Nggak sedikit juga orang dengan siatuasi yang sama denganku waktu itu: singkatnya, kemampuan finansial pas-pasan. Dan IELTS itu mahal, saudaraku. IELTS itu bukan sekedar tes profisiensi bahasa Inggris internasional, tapi juga bisnis multibillion dollar. Didesain sedemikian rupa agar bisa mengetes kemampuan orang dimanapun dan kapanpun dengan valitidas dan akurasi, tes ini diikuti jutaan orang di dunia setiap bulan. Cuma agar bisa mendaftar ke negara atau kampus impian. Bimbingan persiapan IELTS bisa dibilang level paling tinggi dari bisnis kursus bahasa Inggris (mungkin cuma selevel di bawah bimbingan menulis jurnal internasional). Untuk mendaftar program intensifnya, nggak jarang kamu harus bayar belasan atau bahkan puluhan juta untuk bimbingan 50 jam saja. Nuraniku sebagai guru miskin dari Medan merasa miris menyadari ini. 
 
Disitu aku berniat dalam hati, kalau aku mengajar IELTS, maka aku nggak mau sekedar mengajar untuk cari uang. Aku ingin peserta kelasku belajar dengan ‘mata terbuka’. Bahwa benar IELTS itu sulit, tapi tak sesulit yang kamu kira. Benar IELTS itu penting, tapi cuma untuk sekedar membuka pintu saja. Aku ingin mereka merasa yakin dengan biaya minimal namun bimbingan yang mumpuni, mereka bisa mencapai targetnya. Walau tentu harus dibarengi dengan kerja keras dan konsistensi. 
 
Sekarang, hampir lima tahun kemudian, aku sudah mengajar IELTS di berbagai mode. Sebagai guru di bimbingan bahasa Inggris iya, mengajar privat juga iya. Aku pernah diajak kerja sama dengan sistem bagi hasil, sambil membangun brand sendiri juga pelan-pelan aku cicil. Dari yang awalnya di-hire sebagai guru, hingga aku yang meng-hire guru. Sebagian muridku berhasil mencapai targetnya, tapi tak sedikit juga yang masih terus berjuang. Aku juga sebagai guru terus belajar, mencoba hal baru agar bisa lebih efektif membantu. Karena meski mungkin kamu cuma bayar aku untuk sekedar belajar IELTS, tapi aku ingin ngasih pembelajaran lebih dari itu.